Selasa, 05 Mei 2015

Review Kamera Nikon d5000

Nikon telah merilis sebuah produk terbarunya pada hari Senin kemarin yaitu Nikon D5100. Kamera Nikon D5100 diketahui memiliki sensor 16.2 megapixel serta layar LCD dapat diatur, auto focus-continuous dalam mode film, ISO maksimum 25.600, dan mode Efek Khusus baru dengan empat filter yang bekerja baik untuk pengambilan gambar diam maupun video/film.

Nikon D5100 merupakan seri terbaru dari D5000 yang menjadi kamera DSLR Nikon pertama dengan layar LCD lipat.

Fitur terbaru di D5100 adalah sebagian besar ditujukan untuk pengguna yang ingin merekam video/film dengan DSLR mereka. Kamera ini mampu menangkap film beresolusi 1080p dan 720p di kecepatan 24 atau 30 fps. Layar LCD berukuran 3-inch, dengan kepadatan 921,000-dot yang bisa membalik keluar dan miring hingga 170 derajat, yang dapat digunakan pada modus film dan Live View. Mode Efek Khusus kamera memberikan pengguna empat filter yang dapat diterapkan untuk film maupun gambar diam: Selective Color, Color Sketch, efek tilt-shift, dan Night Vision, yang meningkatkan ISO ke 102400.

D5100 memiliki kemampuan untuk auto fokus continuous pada mode film- suatu fitur yang memulai debutnya di D3100 itu. Salah satu kelemahan yang diketahui dari fitur ini adalah bahwa ia menghasilkan suara keras yang ditangkap oleh mikrofon di-kamera. Untuk membantu mengatasi masalah ini meskipun dengan biaya tambahan untuk konsumen-Nikon merilis mikrofon eksternal baru yang disebut-ME 1 yang sesuai ke hot shoe mount kamera dan colokan ke port input mic. Hal ini dirancang untuk mengkompensasi sebagian besar dari kebisingan yang diciptakan oleh lensa auto-fokus. Mikrofon ME-1 akan dijual secara terpisah mulai bulan April dengan harga $ 180.


Berikut fitur dan spesifikasi dari Nikon D5100 :

* sensor CMOS DX 16 MP (crop factor 1.5x)
* ISO normal 100-6400 (can be raised to ISO 25600)
* burst 4 fps
* full HD movie 1080p, 30 fps, AVCHD H.264
* auto focus while recording video
* LCD Vari-angle 3-inch 921 thousand pixels resolution
* finder cov. 95% with a magnification of 0.78 x
* flash sync 1/200 second
* 11 point AF
* 420 pixels RGB
* Quiet shutter mode
* bracketing dan in camera HDR (tidak ada di D3100)
* Expeed 2 (14 bit)

Mengenal ISO

ISO pada fotografi digital , bagi saya , lebih dipahami sebagai kemampuan teknologi sensor untuk menangkap cahaya . Semakin tinggi nilai ISO , semakin besar pula cahaya yang dapat ditangkap oleh sensor . Namun , kekurangannya adalah timbulnya noise seiring bertambahnya nilai ISO yang disetting . Noise ini tampak seperti bintik – bintik butiran kecil yang bersebaran pada foto . Jika foto di zoom hingga 100% akan terlihat jelas noisenya . Selain menimbulkan noise , penambahan nilai ISO juga dapat menyebabkan berkurangnya kualitas foto yg dihasilkan misal : warna jadi tidak muncul , detail jadi hilang dsb.

Nilai ISO pada kamera pada umumnya adalah 100,200,400,800,1600,3200 . Kamera DSLR profesional , NIKON D3 , bahkan mampu mencapai ISO hingga 6400,12800 dan 25600 dengan noise yang sangat rendah . Seiring perkembangan teknologi jangan heran kalau beberapa tahun kedepan sensor digital akan lebih baik , mampu mendukung ISO tinggi tapi dengan noise minimal.

Penggunaan ISO

Umumnya , settingan ISO yang dianjurkan adalah nilai ISO kecil. Noise yg dihasilkan lebih kecil sehingga hasil foto lebih baik apalagi jika berenacana untuk di-print pada ukuran besar. Juga cocok untuk pemotretan landscape / pemandangan dimana noise yg diinginkan seminimal mungkin. Repotnya kalau memotret landscape biasanya pada waktu-waktu dimana justru kurang cahaya : sunrise , sunset atau malam. Mau tidak mau, penggemar jenis foto tersebut harus sedia tripod atau sejenisnya agar bisa menggunakan shutter speed yang lama.

Nilai ISO besar biasanya digunakan untuk kondisi-kondisi kurang cahaya (malam hari atau indoor) dimana setting-an Aperture maupun Shutter Speed. Pada kondisi tersebut , Nilai ISO bisa di naikkan sampai kita memperoleh kecepatan shutter yg ideal.

Senin, 04 Mei 2015

Pasca Peringatan ke-60 KAA, Indonesia Harus Berperan Perkuat Kerjasama Selatan-Selatan

Image
Pergelaran untuk memperingati 60 tahun berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika telah usai digelar pada 25 April 2015 silam. Kini pasca usainya konferensi akbar tersebut, berbagai pihak mulai mempertanyakan sejauh mana dampak positif yang dihasilkan dari konferensi itu bagi negara-negara pesertanya. Ungkapan tersebut muncul karena adanya skeptisme yang menganggap peringatan 60 tahun KAA tidak lebih dari sekedar romantisme negara-negara Asia-Afrika untuk mengenang perjuangan para pemimpinnya di masa lalu.
Namun demikian jika dilihat dari sisi lainnya, peringatan 60th KAA sebenarnya dapat dianggap sebagai momen yang tepat untuk menegaskan kembali peran Indonesia dalam penguatan kerjasama Selatan-Selatan. Hal ini semakin relevan jika dikaitkan dengan proyeksi yang mengatakan bahwa Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia pada tahun 2030.    
Demikian pendapat yang diutarakan oleh pengamat Hubungan Internasional UII, Irawan Jati, S.IP, M.Hum, MSS ketika berbincang dengan Humas UII di kantornya, Senin (4/5). Menurutnya, peringatan KAA dapat dipandang sebagai langkah baru untuk semakin membangun dan mengintensifkan kerjasama selatan-selatan yang selama ini kurang mendapat perhatian dari para penggagasnya. “Dalam Peringatan 60th KAA, New Asian-African Strategic Partnership (NAASP) menjadi salah satu dokumen yang disepakati para peserta di mana di dalamnya terdapat pesan untuk mengintensifkan kerjasama di antara negara Asia dan Afrika yang notabene berada di kawasan bumi bagian Selatan”, ungkapnya.
Adapun yang dimaksud dengan kerjasama selatan-selatan adalah hubungan kerjasama yang merujuk pada negara-negara berkembang yang sebagian besar berada di belahan bumi bagian Selatan. Hal ini sebagai bentuk perimbangan dari kerjasama utara-utara yang terjalin di antara negara-negara maju yang pada umumnya terletak di belahan bumi bagian Utara.
“Yang saya amati selama ini, kerjasama selatan-selatan progresnya cenderung lambat dan sesama negara berkembang justru terkesan berjalan sendiri-sendiri. Kita juga tidak menutup fakta bahwa tidak sedikit negara selatan yang masih sangat tergantung dengan bantuan dari negara kaya dan lembaga donor internasional, seperti IMF”, terangnya.
Oleh karenanya, ia berpendapat penguatan kerjasama selatan-selatan perlu untuk terus didorong oleh negara-negara kunci peserta KAA, termasuk Indonesia agar mereka dapat membangun hubungan yang membuatnya mandiri. “Dampak positif penyelenggaraan KAA adalah negara-negara peserta KAA mulai memperhatikan kembali untuk menggarap peluang kerjasama tersebut. Indonesia jangan sampai tertinggal untuk mengambil inisiatif karena negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand ternyata sudah lebih dulu menggarap kerjasama dengan negara-negara Afrika”, tambahnya lagi.
Sedangkan terkait platform kerjasama yang dapat dimanfaatkan, Irawan Jati melihat model kerjasama trilateral dapat diadopsi oleh Indonesia. “Kerjasama model ini melibatkan dua negara dan satu lembaga atau institusi internasional, seperti UNESCO dan UNDP. Indonesia dapat berkoordinasi dengan lembaga internasional untuk menyalurkan bantuan atau kerjasama dengan negara Afrika”, pungkasnya.

Mahasiswa Teknik Lingkungan UII Menjadi Delegasi Dalam ACC/APF 2015 di Malaysia

Image
MALAYSIA – M. Machfudz Sa’idi, Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan FTSP UII Angkatan 2013 yang juga menjadi Ketua Divisi Research and Development di Komunitas Youth for Climate Change (YfCC) Daerah Istimewa Yogyakarta terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia yang mendapat Scholarship dari Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Kuala Lumpur untuk mengikuti ASEAN Civil Society Conference/ASEAN People’s Forum (ACSC/APF) 2015 yang berlangsung pada 21-24 April 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia.
ACSC/APF merupakan forum tahunan yang setara dengan pertemuan Kepala Negara ASEAN yang diselenggarakan di salah satu negara-negara anggota ASEAN. Pada ACSC/APF 2015 Malaysia ini dihadiri oleh 1400 peserta dari negara anggota ASEAN ditambah tamu dari USA dan Jerman. Pada tahun sebelumnya (2014) kegiatan ini dilaksanakan di Myanmar dengan jumlah peserta mencapai 3000 peserta. Peserta kegiatan ini berasal dari Organisasi Masyarakat Sipil, LSM/NGO, Komunitas dan Gerakan Rakyat Pinggiran yang memantau program dan kebijakan ASEAN. Dalam ACSC/APF ini, fokus kegiatannya yaitu untuk lebih memahami program-program ASEAN dari perspektif masyarakat sipil seperti hak asasi manusia, perdamaian, pembangunan, perdagangan, lingkungan, remaja, dan budaya, serta menjaring relasi dan mempelajari kondisi ASEAN saat ini sebagai langkah persiapan menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang.
Kegiatan ACSC/APF berlangsung selama 4 (empat) hari di Kuala Lumpur, dimana pada hari kedua para delegasi diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa sesi workshop dan diskusi sesuai minatnya diantaranya Forum Wanita, Hak Anak, Forum Pemuda, Forum Anti Korupsi, Hak Asasi Manusia, Demokrasi, Pengembangan Organisasi, Pemerintahan, Keadilan, Hak Imigran, Hak Orang Pinggiran, Interfaith, Lingkungan, dan Climate Change. Hasil dari laporan workshop akan menjadi rekomendasi untuk disampaikan kepada Sekretariat ASEAN dan perwakilan Pemerintah di Negara-negara ASEAN.
Pada sesi Workshop Environment Democracy Index (EDI) & Global Forest Watch (GFW) yang dilaksanakan di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), banyak pelajaran yang bisa diambil dan diaplikasikan di Indonesia. Seperti misalnya Malaysia yang sudah membuka ruang untuk menyusul Singapura dalam memperbaiki kualitas lingkungannya dengan peluncuran global EDI pada 20 Mei 2015. Dr. Sarah Tan (Tim Peneliti Universiti Malaya/Tim Proyek EDI) salah satu pembicara yang tergabung dalam The Access Initiave (TAI)-Malaysia, menerangkan sebuah metode baru dan alat yang memungkinkan pengguna untuk melacak kemajuan negara mereka dalam melindungi hak-hak publik atas informasi, partisipasi, dan keadilan dalam pengambilan keputusan/kebijakan lingkungan yang membentuk dasar dari demokrasi lingkungan.
Dari beberapa delegasi Indonesia yang menghadiri acara ACSC/APF, mahasiswa Teknik Lingkungan FTSP UII menjadi satu-satunya delegasi Indonesia yang tergabung dalam sesi workshop di bidang lingkungan. Harapan kedepannya, kegiatan seperti ini dapat dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswa UII sehingga dapat membuka wawasan tentang program di ASEAN dan belajar dari pengalaman negara tetangga dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa.

review oppo

Font camera 5 MP beautify, capture the most perfec side of you
menggunakan kamera terbaru beautify yang menghasilkan foto definisi tinggi dan paling unggul. Menangkap gambar menjadi lebih luas, sudut lensa dengan perbandingan ideal, dan bentuk objek tetap alami.

Pada kamera depan juga tidak kala hebatnya, dilengkapi dengan IR Blue glass filter yang juga menghasilkan resolusi detail yang tinggi dan juga didukung perhitungan software profesional membuat kamera depan memotret sisi terbaik di malam hari. wow, kamera yang sangat bagus di malam hari saja bisa menghasilkan gambar yang sempurna, apalagi di pagi hari pasti hasilnya lebih memuaskan.

New PI technology, the real natural color of the dark
Menggunakan teknologi terbaru pure image, menambahkan perhitungan optimasi hasil potret di malam hari, efektif mengurangi noise sehingga hasil gambar jelas dan jernih.


Teknologi PI merupakan teknik mengelola grafis khas OPPO, yang menggunakan chip grafis prosesor tersendiri dan di kombinasikan dengan kalkulasi terbaru "3A". Teknologi ini menghasilkan auto white blance (AWB) yang lebih alami, auto fokus lebih akurat, dan auto exposure yang lebih otomatis.

Dilihat dari segi kamera smartphone OPPO R1 telah memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan yang lainnya, dilengkapi dengan teknologi terbaru pastinya membuat pengguna OPPO R1 menjadi lebih dimanjakan. Selanjutnya kita beralih pada desain body pada OPPO smartphone R1.

Gelar TEDx Perdana, UII Komunikasikan Harapan kepada Masyarakat

Memberikan semangat dan menumbuhkan potensi-potensi lokal yang ada di masyarakat adalah hal yang saat ini tengah diupayakan untuk membuat masyarakat semakin maju dan berkembang. Peran inilah yang diharapkan diambil oleh perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang kaya dengan insan akademis yang unggul dan peduli. Sebab pada dasarnya masyarakat membutuhkan motivasi untuk bangkit dan optimis dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang semakin kompleks, baik dalam bidang ekonomi, hukum, maupun budaya. Masyarakat yang bersikap optimis dan sadar akan potensi yang dimilikinya, diharapkan dapat menghimpun hal itu guna memajukan komunitas mereka sendiri.
Isu inilah yang ingin diangkat oleh Universitas Islam Indonesia (UII) dalam penyelenggaraan event TEDx yang berlangsung pada Sabtu (2/5) di Gedung Prof. Dr. Sardjito, kampus terpadu UII. UII kembali menggelar event setaraf internasional yang menghadirkan para pembicara yang dinilai telah berperan dalam mengkomunikasikan harapan kepada masyarakat.
Disampaikan oleh Direktur Humas UII, Karina Utami Dewi, S.IP., MA bahwa TEDx UII adalah bagian dari sebuah komunitas internasional yang tersebar di berbagai negara dan kota-kota di seluruh penjuru dunia yang bertujuan menyebarkan ide-ide baru yang positif kepada komunitas, organisasi, maupun individu-individu melalui event-event yang diselenggarakan TEDx.
“TEDx UII memberi kesempatan kepada individu-individu yang memiliki pengalaman menggerakkan sebuah komunitas untuk menyampaikan ide dan gagasan terbaiknya. Harapannya hal ini dapat berdampak semakin meluas dan berpengaruh positif pada penyebaran ide positif ke komunitas lain yang lebih luas”, ungkapnya.
Senada Direktur Pemasaran, Kerjasama, dan Alumni UII, Hangga Fathana, S.IP., MA juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan event perdana ini merupakan upaya UII untuk turut menggerakkan perubahan positif dalam masyarakat lewat penyampaian ide-ide yang kreatif. “Setidaknya kami menghadirkan sembilan pembicara dari berbagai latar belakang untuk tampil menyampaikan idenya selama kurang lebih 15 menit”, ujarnya.
Wakil Rektor I UII, Dr.-Ing. Ilya Maharika, MA menyambut baik inisiasi gelaran TEDx UII perdana ini. Ia mengatakan, ”Peran universitas memang bukan sekedar menghasilkan lulusan, namun juga menjadi embrio pembawa harapan dan pesan keteladanan yang dapat direplikasi oleh masyarakat. Semoga pesan dan ide para pembicara dapat mewakili peran itu”, tegasnya.
Pembicara yang Membawa Pesan Harapan
ImageAdapun para pembicara yang hadir pada TEDx UII kali ini, antara lain Dr. Yulianto Prihatmaji (Kepala Pusat Penelitian Sains dan Teknologi DPPM UII) yang menyampaikan tentang program Sekolah Lurah sebagai upaya membina aparatur desa untuk dapat mengelola dana desa. Alan Dwi Prasetyo, mahasiswa FTI UII, salah seorang anggota tim aplikasi "celengan limbah", pemenang olimpiade sains nasional.
Dr. Is Fatimah, Ketua Prodi Ilmu Kimia UII, satu-satunya ilmuwan dari Indonesia penerima hibah penelitian The World Academy of Sciences (TWAS) yang menyampaikan tentang prinsip green chemistry sebagai upaya mengoptimalkan sumber daya alam asli Indonesia. Denny Neilment, alumni FE UII sekaligus owner Kedai Kopi yang menyampaikan tentang perannya  menggugah kembali motivasi masyarakat penanam kopi di Lereng Merapi pasca dihantam erupsi. Dr. Wiryono Raharjo, Direktur International Program UII yang berbicara tentang keamanan hak bermukim dari sudut pandang kualitas arsitektur permukiman informal.
Selanjutnya, Lutfi Zanwar, mahasiswa FE UII sekaligus relawan sosial yang menyampaikan tentang penyediaan pojok baca buku-buku untuk mengajak mahasiswa gemar membaca. Dr. Widodo Brontowiyono, Dekan FTSP UII, yang berbicara tentang peran komunitas peduli sungai dalam menjaga kelestarian alam. Hijrah Purnama, dosen Teknik Lingkungan UII yang menyampaikan tentang upaya menggerakkan socialpreneur lewat pengelolaan sampah menjadi barang bernilai jual. Serta Meika Hazim, alumni FE UII dan juga pengusaha wanita yang membicarakan tentang pendidikan bisnis bagi kaum ibu dalam organisasi agar mereka dapat membangun bisnis secara mandiri.

Senin, 06 April 2015

Tips Foto Bokeh Fotografi DSLR

Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata memiliki depth of field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer terdahulu telah memutuskan untuk justru memanfaatkan kelemahan ini menjadi senjata. Lahirlah apa yang kemudian disebut bokeh.
Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti ‘menjadi kabur’, jadi foto bokeh adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris selective focusing. Dalam contoh foto cantik diatas (karya Sektor Dua), obyek utama muka model amatlah tajam, namun latarbelakang pintu menjadi tampak amat kabur (blur). Nah, sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:

1. Pilih mode manual atau Aperture Priority – baca lebih jauh tentang mode operasi kamera disini
2. Pilih setting aperture sebesar mungkin.
Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin sempit bidang fokusnya
3. Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek.
Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background) semakin kabur backgorund anda.
4. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture sebesar mungkin.
Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)